Soe Hok Gie : A reasonable man who in reason’s name took unreasonable risk

It was through “Gie” the film that I got to know Soe Hok Gie the first time, but he didn’t appeal to me that much then. I couldn’t relate that much. Several years after watching the movie, I came across the film original soundtrack and by this time I have already evolved a major crush on my country, and the song reminded me of Gie’s fight for Indonesia’s independence from its own leaders who were abusing the country’s potential (you know, same old, same old). It turns out there are a lot more for me to relate to Gie and I now adore him.

While reading the book, I took notes of the films and books he mentioned, the people he praised and criticized. It still amazes me the range of books he read. From R Tagore to Dostoyevsky to George Orwell, from M Hatta to Arifin C Noer to Asrul Sani. The list is ridiculous. No wonder has had such distinct principles of life and could not bear the thought of sitting quietly while a chaos is happening in his country, and everyone - if it weren’t for him – would just stood idly by. Which is why, as much as I adore him, I wouldn’t want to be him, it was just bizarre how he purposely carried the burden that he did since such a young age all the way to his grave. It was almost like he bore the burden of a whole country and I believe it is safe to say he carried pretty much the burden of human kind and morality, really.

“Di Indonesia hanya ada 2 pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis, sampai batas-batas sejauh-jauhnya. Kadang-kadang saya takut apa jadinya saya kalau saya patah-patah . Apatiskah atau Anarki. Moga-moga tidak menjadi keduauanya.”

“Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan”

“Saya adalah intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin selalu mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi, juga ketidak-populeran. Ada suatu yang lebih besar : kebenaran.”

I decided to read his book because, after watching the movie again, and after some major ‘googling’, I know he had strong principles and explicitly provoking thoughts, which is just what I need to stay in track of, believe it or not, good thoughts. I spend most my days with someone who dictates and is a very dominant character but is a negative force – in my opinion, and if I don’t have my own strong principles it wouldn’t be hard for me to be influenced and in a few years time, be just like this person, and as cliché as it may sound, Gie changed my life. I learned from him how to be strong headed for good reasons, that it is alright to be a counteract, that it is fine to go against a force I believed to be wrong, and how to be that drop of oil in an ocean of water and still holds my shape.

To me, Gie lives.

Some quotes from the book (Soe Hok Gie : Catatan Serang Demonstran) :

“Yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau.”

“Orang yang berani karena bersenjata adalah pengecut”

“Jepang adalah tanah dan Barat adalah benih. Benih itu ditanam dan walaupun yang tumbuh pohon barat, Tapi pohon tadi telah mempunyai sifat2 yang khas jepang. Apakah Indonesia sekuat Jepang? Setanpun tak tahu.”

“Kalau Tuhan ada dan ia makhluk yang aktif maka aku kutuki Tuhan. ia bagai raja yang Mahakuasa, lalu dia cipta manusia-manusia, semuanya ini dan kalutlah semuanya. Dia seolah-olah cuma bergurau dan iseng-iseng. Mengapa dunia ada? Aku pokoknya menolak semua agama yang membebek. Bagiku Tuhan adalah kebenaran. Ia ada dan tiada. Ia terjadi bukan menjadi. Tapi bagaimana dengan manusia lain? Masa bodo.”

“Akupun tak yakin (pasti malah) tentang ke-tak-ada-annya nasib… Aku berpendapat bahwa kita adalah pion dari diri kita sendiri sebagai keseluruhan. Kita adalah arsitek nasib kita, tapi tak pernah dapat menolaknya. Kita asing, ya kita asing dari ciptaan kita sendiri”

“Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan, sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan sejarah tidak akan lahir? Seolah-olah bila kita membagi sejarah maka yang kita jumpai hanya pengkhianatan. Seolah-olah dalam setiap ruang dan waktu kita hidup atasnya. Ya, betapa tragisnya. ‘Hidup adalah penderitaan’, kata Buddha. Dan manusia tidak bisa bebas dari padanya. Kita hidup dan kita menerima itu sebagai suatu keharusan. Tapi bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non-humanis. Memag kita sadar akan kesia-sia-an itu. Kita tahu akan absurd-nya. Dan itulah hidup. Stand like a hero and die bravely. Aku kira dan bagiku itulah kesadaran sejarah. Sadar akan hidup Dan kesia-siaan nilai. Memang hidup seperti ini tidak enak. … Dan sejarawan adalah orang yang harus mengetahui dan mengalami hidup yang lebih berat.”

“Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedudukan. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurd-lah hidup kita.”

“Memang hidup ini sangat tragis dan kejam. Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi.”

“Beberapa bulan yang lalu Aku percaya sejarah adalah lokomotif yang dibuat manusia, tetapi manusia sendiri tak dapat menahannya. Sekarang aku lebih cenderung untuk berkata bahwa manusia disuruh membuat lokomotif yang tak terkendalikan dan terlawan oleh situasinya sendiri dan ia tak sadar”

“To be human is to be destroyed”

“Saya tak tahu masa depan saya. Sebagai orang yang berhasil? Sebagai orang yang gagal terhadap cita-cita idealisme? lalu tenggelam dalam waktu dan usia? Sebagai orang yang kecewa dan lalu mencoba menteror dunia? Atau sebagai seorang yang gagal tetapi dengan penuh rasa bangga tetap memandang matahari terbit? Saya ingin mencoba mencintai semua. Dan bertahan dalam hidup ini.”

“Bersatu hanya untuk bersatu adalah hipokrit”

“Man can be destroyed but never defeated”

Wednesday, October 5, 2011 — 1 note   ()
  1. hither-thither posted this